
"Open source saya dukung penuh antara lain dengan mendorong penggunaan Internet kecamatan," kata Menkominfo Tifatul Sembiring seusai membuka acara Indonesia Open Source Award (IOSA) 2010 di Bidakara Hotel Jakarta, hari ini 28 Juli 2010.
Posisi perangkat lunak open source di negara berkembang tidak bisa diabaikan sebab merupakan solusi alternatif untuk memenuhi keinginan menggunakan perangkat lunak legal.
Solusi priorietary closed seringkali memiliki harga yang tidak terjangkau di samping memiliki faktor ketergantungan.
"Open source ini merupakan software terbuka, bisa dikembangkan, free, dengan bahasa program seperti C, Java, dan lain-lain," katanya.
Oleh karena itu, Menteri menyambut baik ajang IOSA 2010 yang telah berupaya menggali dan melakukan investigasi untuk mengetahui sejauh mana implementasi dan pemanfaatan OSS di kalangan badan pemerintahan dan sekolah.
Berbagai temuan menarik berhasil diperoleh selama proses penjurian yang dilangsungkan beberapa tahap.
Para pemenang IOSA 2010 terbukti telah memiliki pemanfaatan OSS yang sangat maju dan inovatif. Selain itu, para pemenang memiliki kepedulian tinggi terhadap HAKI perangkat lunak.
Pemanfaatan OSS secara luas meningkatkan potensi badan pemerintah untuk dapat memberikan layanan kepada publik secara ekonomis, transparan, dan aman.
Di samping itu, beberapa temuan dari IOSA menunjukkan ada beberapa temuan kurang akomodatif terhadap keinginan pemerintah menerapkan prinsip legal dalam penggunaan perangkat lunak tersebut.
Misalnya, masih ada badan pemerintah yang membagikan pembelian komponen perangkat lunak proprietary kepada daerah-daerah dan perangkat lunak tersebut mewajibkan pembelian komponen perangkat lunak proprietary.
Selain itu, ada pula badan pemerintah yang tanpa alasan tertentu berganti dari open source ke proprietary tanpa ada perubahan fungsi.
Dalam ajang IOSA bukan sekadar pencarian pemenang dan pemberian hadiah tetapi bertujuan memberikan fungsi trigger.
Melalui award tersebut diharapkan berbagai instansi terinspirasi untuk melakukan beberapa keputusan, pembentukan tim, serta keinginan melakukan migrasi. Ajang ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI), serta Komunitas Open Source.
Kabupaten Jembrana berhasil menyisihkan 35 kabupaten/kota yang dinilai oleh panitia, untuk pemenang kedua diraih Kabupaten Sragen dan pemenang ketiga Kabupaten Aceh Besar.
I Made Wiryana, Ketua Panitia IOSA 2010 menyampaikan bahwa penilaian IOSA dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama berdasarkan angket yang diisi oleh peserta dan tahap kedua berupa wawancara dan penilaian dokumen.
Lebih lanjut Made Wiryana menyampaikan bahwa kemenangan Kabupaten Jembrana karena telah berhasil mengintegrasikan berbagai aplikasi open source.
"Jembrana unggul karena banyak melakukan migrasi aplikasi ke open source," ungkap Made Wiryana, yang juga akademisi dari Gunadarma.
Sementara itu I Gede Yasa, Kepala Bidang Informatika, pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika yang mewakili Pemerintah Kabupaten Jembrana, merasa kaget ketika Kabupaten Jembrana diumumkan menjadi pemenang.
"Kami tidak menyangka kalau Jembrana meraih award, untuk migrasi ke Open Source, memang baru 31% komputer dari sekitar 800 komputer di pemda, dengan award ini tentunya lebih memacu kami untuk memenuhi harapan Pemerintah tahun 2011 semuanya open source,"ungkap Gede Yasa
Acara penyerahan IOSA 2010 ini dihadiri Menristek Suharna Suryapranata dan Dirjen Aptel Kominfo Ashwin Sasongko yang mewakili menkominfo. Selain kategori kabupaten/kota juga diumumkan kategori Kementrian dan non kementrian yang diraih oleh Departemen Pertahanan serta kategori SMA yang diraih oleh MA Al Hikmah Jakarta.
Selamat kepada para pemenang, teruslah berkarya demi bangsa, let's rock IT in Indonesia. Sampai jumpa di IOSA 2011.






No comments:
Post a Comment