
Mungkin saya ini sudah terlambat berbagi cerita tentang film dokumenter satu ini. Hanya karena update status salah satu teman di jejaring sosial mengingatkan saya dengan film ini. Mengejar Ombak (Chasing Waves) arahan sutradara Dave Arnold dan Tyrone Lebon ini memang hangat, intim, inspiratif, dan rendah hati.
Film dokumenter surfing ini turut diputar di KBRI London pada tanggal 18 Februari 2010 membuka Pekan Film Indonesia yang berlangsung di London, Leeds dan New Castle dari bulan Februari hingga bulan Juni 2010. Penyelenggaraan pekan film tersebut merupakan kerjasama antara KBRI London, School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London dan Asosiasi Masyarakat Indonesia di London (Wadah) serta sutradara muda warga negara Inggris, Dave Arnold [salah satu sutradara film ini].
Saya ingat waktu itu Robert, teman saya yang bekerja di London menceritakan tentang antusiame para penonton film ini. Pemutaran perdana film Mengejar Ombak tersebut telah dihadiri oleh sekitar 120 orang penonton yang sebagian besar warga Inggris. Diantara penonton yang hadir tampak Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Martin Hatfull, beserta istri yang tengah berada di London. Selain itu tampak pula mantan Duta Besar Inggris di Jakarta sebelumnya, yaitu Sir Robin Christopher, serta para anggota Anglo-Indonesian Society dan komunitas seni perfilman di London. Robert bilang film ini disajikan dengan hangat, intim, dan jujur. Sebuah dokumentar yang character based.
Film ini adalah sebuah film semi-dokumenter yang menceritakan mengenai perjalanan seorang surfer Indonesia asal Jawa barat, Dede Suryana, yang telah menjuarai kejuaraan surfing Indonesia dan dua kali pemenang Gold Winner pada Asian Beach Games.
Kenapa mesti Dede Suryana? Nah, mungkin sosok Dede spesial buat sang film maker dan buat mereka sosok Dede bisa mendekatkan film ini dengan penonton. Film ini merupakan karya pertama dari sutradara Dave Arnold juga mengisahkan mengenai perbenturan kebudayaan yang dialami oleh Dede yang berasal dari keluarga Islam tradisional yang kemudian tinggal di Bali dan terekspose dengan budaya-budaya Barat sebagai bagian dari kehidupannya sebagai seorang atlit surfing. Film inipun juga menyisipkan cuplikan peristiwa Bom Bali I.
Dede berasal dari desa kecil di Jawa Barat. Dari sebuah papan selancar bekas pemberian orang Australia, Dede lantas menjadi peselancar terbaik di Cimaja, dan memenangkan berbagai kompetisi. Karena Cimaja tak lagi dapat menampung bakatnya yang terlalu besar, ia mempertajam ilmunya ke Bali mulai umur 15 tahun.
Dari situlah perjalanan panjang Dede dimulai. Termasuk memenangkan Todd Chesser Memorial Contest di Hawaii, juga berburu ombak besar di Amerika, hingga Australia, dan debut dia di World Qualifying Series di usia 19 tahun dan jadi surfer Asia pertama yang berhasil lolos kualifikasi World Championship Tour (WCT). Menariknya, sebagai seorang muslim, Dede memiliki latar belakang konvensional, dan masih menjunjung nilai-nilai tradisional. Friksi-friksi ini melarut dan terus digulirkan sepanjang film. 
Soal bagaimana Dede beraksi terhadap tempat dan kebudayaan baru yang ia singgahi; bagaimana ia hidup dalam lingkungan baru; soal keluarga Dede dan lingkungan rumahnya; soal ia menghadap karakter ombak di Hawaii yang cepat dan kuat, hingga bagaimana Dede dihadapkan pada pilihan menjadi peselancar profesional yang terus mengejar gelar dan kompetisi, atau menjadi free surfer yang berselancar dengan hati. Sepanjang film, seolah penonton disajikan ke dalam fakta-fakta baru yang mungkin sudah lama ada, tapi tidak pernah disadari sebelumnya.
Kita bisa mengikuti perjalanan Dede sejak awal belajar surfing hingga terpilih jadi surfer nomer satu di Indonesia. Cerita ini kita dapatkan bukan cuma dari kamera yang terus rolling mengikuti Dede ke berbagai kompetisi di tiga benua sampai pulang ke kampung halamannya di Cimaja, tapi juga dari orang tua, kakak-kakak, teman-teman, dan fotografer yang mengenal Dede.
Di awal film disajikan sebuah pernyataan Dustin Humprey seorang World leading surf photographer (2003):
"Ghost stories. That's the thought that came into my head when I heard of Dede Suryana. The rumours had been flying around for years. Tales of a young kid from a small fishing village in Java who had supranatural powers..."
Saya menonton premiere film ini di Blitz Megaplex Jakarta 27 April 2009 dan bertemu dengan Dede, keluarganya dan kedua film maker, Dave dan Tyrone. Sungguh saya cukup berbangga melihat film ini memperoleh sambutan yang cukup meriah dari berbagai kalangan walaupun bukan karya anak bangsa, tapi yang jadi subyek kan asli anak bangsa dan dibuat di Indonesia.
Film ini juga telah memperoleh penghargaan Best Emerging Filmmaker dan Best Original Score pada X-Dance Film Festival 2009 di Utah, AS.
Surfing, seperti halnya skateboard, sejak dulu hanya menjadi sebuah subkultur. Apalagi di Indonesia. Selain kurang diminati, dianggap kebarat-baratan, bahkan tidak bermasa depan. Padahal, surfing adalah kalau diolah dengan serius bisa menjadi sangat besar dan menjadi salah satu bagian dari label Indonesia. Dan Indonesia, bisa jadi disebut Disneyland-nya para surfer.






No comments:
Post a Comment